Kamis, 15 Oktober 2009

SISTEM EKONOMI ISLAM

Sistem Ekonomi dalam Islam

Sistem ekonomi yang dibangun atas dasar moral dan rohani seperti yang sudah kita sebutkan itu, sudah seharusnya akan mengantarkan manusia ke dalam hidup bahagia, dan menghapus segala penderitaan dari muka bumi ini. Prinsip-prinsip agung yang oleh Qur'an ditekankan sekali supaya ditanamkan kedalam jiwa seperti di tempat akidah dan iman itu, akan membuat orang tidak sudi melihat masih adanya penderitaan di muka bumi ini, atau masih adanya kekurangan yang dapat diberantas tapi tidak dilakukan. Bagi orang yang sudah mendapat ajaran ini yang pertama sekali akan ditolaknya ialah riba yang menjadi dasar kehidupan ekonomi dewasa ini, dan yang menjadi sumber pendieritaan seluruh umat manusia. Oleh karena itu Qur'an secara tegas sekali mengharamkan, seperti dalam firman Tuhan tentang larangan riba:

"Mereka yang memakan riba tidak akan dapat berdiri, kalau pun berdiri hanya akan seperti orang yang sudah kemasukan setan karena penyakit gila." (Qur'an 2: 275)

"Setiap riba yang kamu lakukan untuk menambah harta orang lain dalam pandangan Allah tidak akan dapat bertambah. Tetapi zakat yang kamu lakukan demi keridaan Allah, mereka itu yang akan mendapat balasan berlipat ganda." (Qur'an 30: 39)

Diharamkannya riba adalah norma dasar untuk kebudayaan yang akan dapat menjamin kebahagiaan dunia. Bahaya riba dalam bentuknya yang paling kecil ialah ikut sertanya orang yang tidak bekerja dalam suatu hasil usaha orang lain hanya karena ia sudah meminjamkan uang kepadanya, dengan alasan lagi bahwa dengan meminjamkan itu ia sudah membantu orang lain memperoleh hasil keuntungan itu. Sebaliknya kalau ini tidak dilakukan si peminjam tidak akan dapat berusaha dan dengan sendirinya takkan dapat memungut keuntungan. Kalau hanya ini saja satu-satunya bentuk riba itu, ini pun takkan dapat dijadikan alasan. Kalau orang yang meminjamkan uang itu mampu menjalankan sendiri, ia tidak akan meminjamkannya kepada orang lain, dan kalau uang itu tetap ditangannya sendiri tidak dijalankan dalam usaha, maka uang itu pun tidak akan mendatangkan keuntungan. Sebaliknya, sedikit demi sedikit uangnya itu akan habis dimakan pemiliknya sendiri. Jika ia akan meminta bantuan orang lain menjalankan uangnya dengan bagi hasil menurut keuntungan yang akan diperoleh, tentu caranya bukan dengan jalan dipinjamkan sebagai modal dengan laba tertentu, melainkan dengan cara si pemilik uang itu ikut serta dengan orang yang menjalankan uangnya atas dasar bagi untung. Kalau si pengusaha beruntung, maka si pemilik modal itu pun akan mendapat bagian keuntungan; kalau rugi, dia pun akan turut memikul kerugiannya. Sebaliknya kalau kepada pemilik modal itu akan ditentukan suatu laba, meskipun yang mengusahakan tidak mendapat keuntungan apa-apa, maka itu adalah suatu eksploitasi illegal, suatu pemerasan yang tidak sah.

Dan tidak akan dapat terjadi bahwa harta itu dapat diperlakukan seperti yang lain-lain, dapat dipersewakan seperti menyewakan tanah atau menyewakan hewan, dan bahwa laba uang tunai harus sesuai dengan hasil sewa barang-barang yang lain itu. Uang yang dapat dipakai untuk pengeluaran dan dapat juga dipakai untuk produksi, yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan dan juga dapat menimbulkan kejahatan (dosa), dengan harta bergerak dan tidak bergerak lainnya, besar sekali perbedaannya. Orang yang menyewa tanah, rumah, hewan atau barang apa pun, tentu karena ingin dimanfaatkan, yang berarti akan sangat berguna buat dia, kecuali jika dia memang orang bodoh atau orang edan, yang segala gerak-geriknya sudah tidak lagi diperhitungkan orang.

Sebaliknya yang mengenai uang modal, yang biasanya dipinjam untuk tujuan-tujuan perdagangan yang sebaik-baiknya. Perdagangan itu senantiasa dihadapkan kepada soal untung atau rugi. Sedang mengenai sewa-menyewa barang-barang bergerak dan tidak bergerak untuk dijalankan dalam usaha, sedikit sekali yang mengalami kerugian, kecuali dalam keadaan yang abnormal, yang tidak masuk dalam keadaan biasa. Apabila keadaan abnormal ini yang terjadi, maka kekuasaan hukum segera pula campur tangan antara si pemilik dengan si penyewa - seperti yang sering terjadi dalam semua negara di dunia - untuk menghilangkan ketidak adilan terhadap si penyewa serta menolongnya dari tindakan si pemilik yang hanya akan memungut laba dari usahanya itu. Sebaliknya, dengan menentukan bunga uang tunai, dengan lebih-kurang 7% atau 9%, maka ini tidak akan mengubah, bahwa si peminjam dapat terancam oleh kerugian modal, disamping kerugian usahanya sendiri. Apabila disamping itu dia masih juga lagi dituntut dengan bunga, maka inilah yang disebut kejahatan (dosa). Akibat ini akan menimbulkan permusuhan, sebaliknya daripada persaudaraan; akan menimbulkan kebencian, bukan cinta kasih. Inilah sumber kesengsaraan dan segala krisis yang diderita umat manusia dewasa ini.

Bahaya Riba yang Lain
Kalau memang inilah bahaya riba dalam bentuknya yang paling kecil, dan begitu pula akibat-akibat yang timbul, apalagi dengan bentuk lain tatkala si pemberi pinjaman itu sudah lebih mendekati binatang buas daripada manusia, atau sipeminjam itu sudah sangat membutuhkan uang di luar keperluan penanaman modal atau produksi. Adakalanya ia sangat membutuhkan uang untuk keperluan nafkah yang konsumtif, untuk keperluan makannya atau makan keluarganya. Ketika itulah perhatiannya hanya pada yang lebih mudah saja dulu, sebelum ia dapat memegang sesuatu pekerjaan yang dapat menjamin keperluan hidupnya dan kemudian dapat membayar kembali utangnya. Ini sudah merupakan satu tugas perikemanusiaan sebagai langkah pertama. Dan ini pula yang dirumuskan oleh Qur'an. Bukankah dalam keadaan serupa ini pemberian pinjaman dengan riba sudah merupakan suatu kejahatan yang sama dengan pembunuhan? Yang lebih parah lagi dari kejahatan ini ialah adanya segala macam tipu-muslihat dengan jalan riba itu untuk merampas harta orang-orang yang lemah, orang-orang yang tidak pandai menjaga hartanya. Tipu muslihat ini tidak kurang pula jahatnya dari pencurian yang rendah. Dan setiap pelaku ke arah ini harus dihukum seperti pencuri atau lebih keras lagi.

Riba dan Penjajahan
Riba adalah salah satu faktor yang turut menjerumuskan dunia ke dalam bencana penjajahan, dengan segala macam penderitaan yang ditimbulkan oleh penjajahan itu. Sebagian besar masalah penjaJahan itu dimulai oleh sekelompok tukang-tukang riba - secara perseorangan atau dalam bentuk badan-badan usaha - yang mendatangi beberapa negara dengan memberikan pinjaman kepada penduduk. Kemudian mereka menyusup masuk lebih dalam lagi sampai mereka dapat menguasai sumber-sumber kekayaan. Bilamana kelak anak negeri sudah menyadari kembali dan hendak mempertahankan diri dan harta mereka, orang-orang asing itu cepat-cepat meminta bantuan negaranya. Negara ini pun kemudian masuk atas nama hendak melindungi rakyatmya. Kemudian ia menyusup juga masuk lebih dalam lagi, lalu berkuasa sebagai penjajah. Sekarang mereka sebagai yang dipertuan. Kemerdekaan orang lain dirampas. Sebagian besar sumber-sumber kskayaan negeri itu mereka kuasai. Dengan demikian kekayaan mereka jadi hilang, penderitaan mulai mencekam seluruh kawasan itu dan bayangan kesengsaraan sudah pula merayap-rayap kedalam hati mereka. Pikiran mereka jadi kacau, moral jadi lemah, iman mereka pun mulai goyah. Martabat mereka jadi turun dari taraf manusia yang sebenarnya ke taraf yang lebih hina, yang bagi orang yang beriman kepada Allah tidak akan sudi hidup demikian, sebab, hanya kepada Allah semata orang merendahkan diri dan harus mengabdi.

Juga penjajahan itu sumber peperangan, sumber penderitaan besar yang sangat menekan kehidupan seluruh umat manusia dewasa ini. Selama ada riba, selama ada penjajahan, jangan diharap manusia akan dapat kembali ke masa persaudaraan dan saling cinta antara sesamanya. Harapan akan kembali ke masa serupa itu tidak akan ada, kecuali jika kebudayaan atas dasar yang dibawa oleh Islam dan diwahyukan dalam Qur'an itu dapat dibangun kembali.

SISTEM SOSIALISMA ISLAM

Sistem Sosialisma dalam Islam

Didalam Qur'an ada konsepsi sosialisma yang belum lagi dibahas orang. Sosialisma ini tidak didasarkan kepada perang modal dan perjuangan kelas, seperti yang terdapat sekarang dalam sosialisma Barat, melainkan dasarnya ialah karakter dan moral yang tinggi yang akan menjamin adanya persaudaraan kelas, adanya kerja-sama dan saling bantu atas dasar kebaikan dan kebaktian, bukan kejahatan dan saling permusuhan. Tidak sulit orang akan melihat landasan sosialisma atas dasar persaudaraan ini, seperti yang sudah ditentukan oleh Qur'an mengenai zakat dan sedekah misalnya. Orang dapat menilai, bahwa ini bukanlah sosialisma dengan dominasi suatu kelas atas kelas yang lain, atau kekuasaan suatu golongan atas golongan yang lain. Kebudayaan yang dilukiskan oleh Qur'an tidak mengenal adanya dominasi atau sikap berkuasa, melainkan atas dasar persaudaraan yang sungguh-sungguh yang didorong oleh keyakinan yang kuat akan persaudaraan itu; suatu keyakinan yang membuat orang dengan mengingat karunia Tuhan itu mau memberi untuk si miskin, orang melarat, orany yang membutuhkan dan segala yang diperlukannya akan makanan, tempat tinggal, obat-obatan, pengajaran dan pendidikan. Mereka memberikan itu atas dasar keikhlasan dan kejujuran. Dengan demikian penderitaan dapat dihilangkan, karunia Tuhan dan kebahagiaan dapat merata kepada umat manusia.

Tidak menghapuskan hak milik secara mutlak
Sosialisma Islam ini tidak sampai menghapuskan hak milik secara mutlak, seperti halnya dengan sosialisma Barat. Kenyataan sudah membuktikan - bolsyevisma di Rusia dan negara-negara sosialis lainnya - bahwa menghapuskan hak milik itu suatu hal yang tidak mungkin. Sungguhpun begitu, namun perusahaan-perusahaan negara harus tetap menjadi milik bersama untuk kepentingan semua orang. Mengenai ketentuan perusahaan-perusahaan negara itu terserah kepada negara. Oleh karena itu mengenai ketentuan ini sejak abad-abad permulaan dalam sejarah Islam sudah terdapat perbedaan pendapat. Dari kalangan sahabat-sahabat Nabi sendiri ada yang terlampau keras menjalankan ketentuan sosialisma ini, sehingga segala yang diciptakan Tuhan dijadikan milik bersama dan untuk kepentingan umum. Mereka memandang tanah dan segala yang terkandung, sama dengan air dan udara, tidak boleh menjadi milik pribadi. Yang boleh dimiliki hanya hasilnya, yang disesuaikan dengan usaha dan perjuangan masing-masing. Ada juga yang tidak berpendapat demikian. Mereka menyatakan bahwa tanah boleh dimiliki dan dianggap sebagai barang-barang yang boleh dipertukarkan.

Sistem sosialisma yang sudah mantap
Akan tetapi persetujuan yang sudah dicapai di kalangan mereka ialah sama dengan yang berlaku di Eropa sekarang, yaitu menentukan bahwa setiap orang harus mencurahkan segala kemampuannya untuk kepentingan masyarakat, dan masyarakat harus pula berusaha, untuk kepentingan pribadi dalam mengatasi segala keperluannya. Setiap Muslim berhak menerima kebutuhannya serta kebutuhan orang yang menjadi tanggungannya dari baitulmal (perbendaharaan negara) Muslimin, selama ia belum mendapat pekerjaan yang akan menjamin keperluan hidupnya, atau selama pekerjaan yang dipegangnya itu tidak mencukupi keperluannya dan keperluan keluarganya.

Selama norma-norma etik di dalam Qur'an seperti yang sudah kita sebutkan itu dijalankan, maka tidak akan ada orang yang mau berdusta; tidak akan ada orang yang mau mengatakan, bahwa ia penganggur, padahal yang sebenarnya dia tidak mau bekerja, tidak akan ada orang yang mau menyatakan, bahwa penghasilan dari pekerjaannya tidak mencukupi, padahal sebenarnya sudah lebih dari cukup. Khalifah-khalifah pada masa permulaan Islam dahulu sudah mewajibkan diri menyelidiki sendiri keadaan umat Islam untuk kemudian dapat mengatasi segala keperluan orang yang memang berada dalam kebutuhan.

Sosialisma dasarnya persaudaraan
Dari sini dapat kita lihat bahwa sosialisma dalam Islam bukanlah sosialisma harta serta pembagiannya, melainkan sosialisma yang menyeluruh, yang dasarnya persaudaraan dalam kehidupan rohani dan moral serta dalam kehidupan ekonomi. Kalau seseorang belum sempurna imannya sebelum ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, maka imannya itu pun memang tidak sempurna kalau tidak dapat ia turut mendukung orang memberantas kemiskinan dan memberikan derma atau dana untuk kemakmuran bersama, membagikan kekayaan sebagai karunia Tuhan itu, baik dengan diketahui, atau tidak diketahui orang. Makin besar cintanya kepada orang lain, makin dekat ia kepada Tuhan. Dia sedikit pun merasa lebih gembira. Apabila Tuhan telah membuat manusia itu bertingkat-tingkat, memberikan rejeki kepada siapa saja yang dikehendakiNya serta menentukan pula, maka manusia takkan lebih baik keadaannya kalau tak ada rasa saling hormat, yang kecil menghormati yang lebih besar, yang besar mencintai yang lebih kecil, si kaya mau memberi untuk si miskin demi Allah semata, karena rasa syukur.

Rasanya tidak perlu kita menyebutkan lagi apa yang sudah disebutkan Qur'an tentang sistem ekonomi, tentang waris, tentang wasiat (testamen), tentang perjanjian-perjanjian, perdagangan dan sebagainya. Dalam memberikan isyarat yang singkat sekalipun mengenai masalah-masalah hukum atau soal-soal kemasyarakatan, akan memerlukan ruangan sekian kali lebih banyak dari pasal ini. Cukup kalau kita sebutkan saja, bahwa apa yang sudah disebutkan dalam Qur'an sehubungan dengan masalah-masalah tersebut kiranya sampai sekarang belum ada suatu undang-undang yang lebih baik dari itu. Bahkan orang akan terkejut sekali bila ia melihat adanya beberapa penjelasan seperti perjanjian tertulis mengenai utang-piutang sampai pada waktu tertentu kecuali dalam perdagangan, atau seperti dalam mengirimkan dua orang juru pendamai jika dikuatirkan akan terjadi perceraian antara suami isteri, atau terhadap dua golongan yang sedang berperang dan pihak yang menyerang dengan sewenang-wenang dan tidak mau diajak damai itu harus diperangi sampai ia mau kembali kepada perintah Tuhan - sungguh orang akan kagum sekali melihat semua ini. Apalagi akan membandingkannya dengan berbagai macam undang-undang yang pernah ada, kalau pun perundang-undangan yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah diletakkan Qur'an itu sudah memang cukup baik.

Jadi tidak mengherankan sekali - seperti yang sudah kita sebutkan tentang riba dan tentang sosialisma Islam sebagai dasar sistem ekonomi, yang dilukiskan di dalam Qur'an dengan penjelasan hukum sebagai suatu penyusunan undang-undang yang terbaik yang pernah ada dalam sejarah - kalau kebudayaan Islam itu juga yang menjadi kebudayaan yang layak buat umat manusia dan yang benar-benar akan memberikan hidup bahagia.

SISTEM MORAL ISLAM

Sistem Moral Dalam Islam

Ciri-ciri khas watak dan etika yang menjadi landasan budi-pekerti dan pendidikan akhlak yang murni itu dasarnya ialah - seperti yang sudah kita sebutkan - disiplin rohani seperti yang ditentukan oleh Qur'an dan yang bertalian pula dengan iman kepada Allah. Inilah soal yang pokok sekali dan ini pula yang akan menjamin adanya sistem moral dalam jiwa orang dengan tetap bersih dari segala noda, jauh dari segala penyusupan yang mungkin akan merusak. Moral yang dasarnya memperhitungkan untung-rugi segera akan diperbesar selama ia yakin bahwa kelemahan demikian itu tidak akan menggangu keuntungannya. Orang yang dasar moralnya memperhitungkan untung-rugi demikian ini sikap luarnya akan berbeda dengan isi hati. Keadaannya yang disembunyikan akan berbeda dengan yang diperlihatkan kepada orang. Ia berpura-pura jujur, tapi tidak akan segan-segan ia menjadikan itu hanya sebagai tameng untuk memancing keuntungan. Ia berpura-pura benar, tapi tidak akan segan-segan ia meninggalkannya kalau dengan meninggalkan itu ia akan mendapat keuntungan. Orang yang pertimbangan moralnya demikian ini dalam menghadapi godaan mudah sekali jadi lemah, mudah sekali terbawa arus nafsu dan tujuan-tujuan tertentu!

Kelemahan ini ialah gejala yang jelas terlihat dalam dunia kita sekarang. Sudah sering sekali orang mendengar adanya perbuatan-perbuatan skandal dan korupsi dimana-mana dalam dunia yang sudah beradab ini. Sebabnya ialah karena kelemahan, orang lebih mencintai harta dan kedudukan atau kekuasaan daripada nilai moral yang tinggi dan iman yang sebenarnya. Tidak sedikit mereka terjerumus masuk ke dalam jurang tragedi moral dan melakukan kejahatan yang paling keji, kita lihat pada mulanya mereka pun berakhlak baik, tetapi masih untung-rugi itu juga yang menjadi dasar moralnya. Tadinya mereka menganggap bahwa sukses dalam hidup ini bergantung pada kejujuran. Lalu mereka bersikap jujur karena ingin sukses, bukan bersikap jujur karena terikat oleh akidahnya -oleh keyakinan batinnya. Mereka berhenti hanya sampai disitu, meskipun ini sangat membahayakan dirinya. Tetapi setelah mereka lihat bahwa mengabaikan masalah kejujuran dalam peradaban abad kini merupakan salah satu jalan mencapai sukses, maka kejujuran itu pun mereka abaikan. Yang demikian ini ada yang tetap tertutup dari mata orang, rahasianya tidak sampai terbongkar dan akan tetap dipandang terhormat, tetapi ada juga yang rahasianya terbongkar dan ia tercemar, yang kadang berakhir dengan bunuh diri.

Jadi pembinaan sistem watak dan moral atas dasar untung-rugi ini sewaktu-waktu akan menjerumuskannya kedalam bahaya. Sebaliknya, apabila pembinaannya itu didasarkan atas sistem rohani seperti dirumuskan oleh Qur'an, ini akan menjamin tetap bertahan, takkan terpengaruh oleh sesuatu kelemahan. Niat yang menjadi pangkal bertolaknya perbuatan ialah dasar perbuatan itu dan sekaligus harus menjadi kriteriumnya pula. Orang yang membeli undian untuk Pembanguman sebuah rumahsakit, ia tidak membelinya dengan niat hendak beramal, melainkan karena mengharapkan keuntungan. Orang yang memberi karena ada orang yang datang meminta secara mendesak dan ia memberi karena ingin melepaskan diri, tidak sama dengan orang yang memberi karena kemauan sendiri, yaitu memberi kepada mereka yang tidak meminta secara mendesak, mereka yang oleh orang yang tidak mengetahui dikira orang-orang yang berkecukupan karena mereka memang tidak mau meminta-minta itu. Orang yang berkata sebenarnya kepada hakim karena takut akan sanksi hukum terhadap seorang saksi palsu, tidak sama dengan orang yang berkata sebenarnya karena ia memang yakin akan arti kebenaran itu. Juga moral yang landasannya perhitungan untung rugi kekuatannya tidak akan sama dengan moral yang sudah diyakini benar bahwa itu bertalian dengan kehormatan dirinya sebagai manusia, bertalian dengan keimanannya kepada Allah. Dalam hatinya sudah tertanam landasan rohani yang dasarnya keimanan kepada Allah itu.

MUHAMMAD SAW NABI SEMUA UMAT

Muhammad adalah Nabi umat Hindu
New Delhi, India

Seorang professor bahasa dari ALAHABAD UNIVERSITY INDIA dalam salah satu buku terakhirnya berjudul "KALKY AUTAR" (Petunjuk Yang Maha Agung) yang baru diterbitkan memuat sebuah pernyataan yang sangat mengagetkan kalangan intelektual Hindu. Sang professor secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, karena menurutnya, sebenarnya Muhammad Rasulullah saw adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual.

Prof. WAID BARKASH (penulis buku) yang masih berstatus pendeta besar kaum Brahmana mengatakan bahwa ia telah menyerahkan hasil kajiannya kepada delapan pendeta besar kaum Hindu dan mereka semuanya menyetujui kesimpulan dan ajakan yang telah dinyatakan di dalam buku. Semua kriteria yang disebutkan dalam buku suci kaum Hindu (Wedha) tentang ciri-ciri "KALKY AUTAR" sama persis dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh Rasulullah Saw.

Dalam ajaran Hindu disebutkan mengenai ciri KALKY AUTAR diantaranya, bahwa dia akan dilahirkan di jazirah, bapaknya bernama SYANUYIHKAT dan ibunya bernama SUMANEB. Dalam bahasa sansekerta kata SYANUYIHKAT adalah paduan dua kata yaitu SYANU artinya ALLAH sedangkan YAHKAT artinya anak laki atau hamba yang dalam bahasa Arab disebut ABDUN.

Dengan demikian kata SYANUYIHKAT artinya "ABDULLAH". Demikian juga kata SUMANEB yang dalam bahasa sansekerta artinya AMANA atau AMAAN yang terjemahan bahasa Arabnya "AMINAH". Sementara semua orang tahu bahwa nama bapak Rasulullah Saw adalah ABDULLAH dan nama ibunya MINAH.

Dalam kitab Wedha juga disebutkan bahwa Tuhan akan mengirim utusan-Nya kedalam sebuah goa untuk mengajarkan KALKY AUTAR (Petunjuk Yang Maha Agung). Cerita yang disebut dalam kitab Wedha ini mengingatkan akan kejadian di Gua Hira saat Rasulullah didatangi malaikat Jibril untuk mengajarkan kepadanya wahyu tentang Islam.

Bukti lain yang dikemukakan oleh Prof. Barkash bahwa kitab Wedha juga menceritakan bahwa Tuhan akan memberikan Kalky Autar seekor kuda yang larinya sangat cepat yang membawa kalky Autar mengelilingi tujuh lapis langit. Ini merupakan isyarat langsung kejadian Isra' Mi'raj dimana Rasullah mengendarai Buroq

Dikutip buletin Aktualita Dunia Islam no 58/II Pekan III/februari 1998

ASMAUL HUSNA

Asmaul Husna

ALLAH memiliki nama-nama yang baik yang disebut dengan Asmaul Husna. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa al-Asma al-Husna ini jumlahnya ada 99, karena ALLAH menyukai bilangan yang ganjil. Sesungguhnya ALLAH mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga. (H.R. Bukhari dan Muslim) Sembilan puluh sembilan nama tsb menggambarkan betapa baiknya ALLAH. Nama-nama dalam Asmaul Husna ini, ALLAH sendirilah yang menciptakannya.

Dia-lah ALLAH yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang Membentuk Rupa, yang Mempunyai Nama-Nama yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr: 24)
Sebutlah nama-nama ALLAH, dalam setiap zikir dan doa kita. Jika kita memohon diberi petunjuk, sebutlah nama Al-Hâdi (Maha Pemberi Petunjuk). Jika kita mohon diberi sifat kasih sayang, sebutlah nama Ar-Rahmân (Maha Pengasih). Semoga doa kita akan semakin makbul. Anjuran untuk menggunakan Asmaul Husna dalam berzikir dan berdoa, diterangkan oleh ALLAH SWT dalam Al-Quran.

Hanya milik ALLAH asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A'râf: 180)

Asmaul Husna hanya milik ALLAH SWT. Manusia sebagai makhluk-Nya hanya dapat memahami, mempelajari, dan meniru kandungan makna dari 99 nama yang baik tsb dalam kehidupan sehari-hari.

1. ar-Rahmaan, Yang Maha Pemurah, Al-Faatihah: 3
2. ar-Rahiim, Yang Maha Pengasih, Al-Faatihah: 3
3. al-Malik, Maha Raja, Al-Mu'minuun: 11
4. al-Qudduus, Maha Suci, Al-Jumu'ah: 1
5. as-Salaam, Maha Sejahtera, Al-Hasyr: 23
6. al-Mu'min, Yang Maha Terpercaya, Al-Hasyr: 23
7. al-Muhaimin, Yang Maha Memelihara, Al-Hasyr: 23
8. al-'Aziiz, Yang Maha Perkasa, Aali 'Imran: 62
9. al-Jabbaar, Yang Kehendaknya Tidak Dapat Diingkari, Al-Hasyr: 23
10. al-Mutakabbir, Yang Memiliki Kebesaran, Al-Hasyr: 23
11. al-Khaaliq, Yang Maha Pencipta, Ar-Ra'd: 16
12. al-Baari', Yang Mengadakan dari Tiada, Al-Hasyr: 24
13. al-Mushawwir, Yang Membuat Bentuk, Al-Hasyr: 24
14. al-Ghaffaar, Yang Maha Pengampun, Al-Baqarah: 235
15. al-Qahhaar, Yang Maha Perkasa, Ar-Ra'd: 16
16. al-Wahhaab, Yang Maha Pemberi, Aali 'Imran: 8
17. ar-Razzaq, Yang Maha Pemberi Rezki, Adz-Dzaariyaat: 58
18. al-Fattaah, Yang Maha Membuka (Hati), Sabaa': 26
19. al-'Aliim, Yang Maha Mengetahui, Al-Baqarah: 29
20. al-Qaabidh, Yang Maha Pengendali, Al-Baqarah: 245
21. al-Baasith, Yang Maha Melapangkan, Ar-Ra'd: 26
22. al-Khaafidh, Yang Merendahkan, Hadits at-Tirmizi
23. ar-Raafi', Yang Meninggikan, Al-An'aam: 83
24. al-Mu'izz, Yang Maha Terhormat, Aali 'Imran: 26
25. al-Mudzdzill, Yang Maha Menghinakan, Aali 'Imran: 26
26. as-Samii', Yang Maha Mendengar, Al-Israa': 1
27. al-Bashiir, Yang Maha Melihat, Al-Hadiid: 4
28. al-Hakam, Yang Memutuskan Hukum, Al-Mu'min: 48
29. al-'Adl, Yang Maha Adil, Al-An'aam: 115
30. al-Lathiif, Yang Maha Lembut, Al-Mulk: 14
31. al-Khabiir, Yang Maha Mengetahui, Al-An'aam: 18
32. al-Haliim, Yang Maha Penyantun, Al-Baqarah: 235
33. al-'Azhiim, Yang Maha Agung, Asy-Syuura: 4
34. al-Ghafuur, Yang Maha Pengampun, Aali 'Imran: 89
35. asy-Syakuur, Yang Menerima Syukur, Faathir: 30
36. al-'Aliyy, Yang Maha Tinggi, An-Nisaa': 34
37. al-Kabiir, Yang Maha Besar, Ar-Ra'd: 9
38. al-Hafiizh, Yang Maha Penjaga, Huud: 57
39. al-Muqiit, Yang Maha Pemelihara, An-Nisaa': 85
40. al-Hasiib, Yang Maha Pembuat Perhitungan, An-Nisaa': 6
41. al-Jaliil, Yang Maha Luhur, Ar-Rahmaan: 27
42. al-Kariim, Yang Maha Mulia, An-Naml: 40
43. ar-Raqiib, Yang Maha Mengawasi, Al-Ahzaab: 52
44. al-Mujiib, Yang Maha Mengabulkan, Huud: 61
45. al-Waasi', Yang Maha Luas, Al-Baqarah: 268
46. al-Hakiim, Yang Maha Bijaksana, Al-An'aam: 18
47. al-Waduud, Yang Maha Mengasihi, Al-Buruuj: 14
48. al-Majiid, Yang Maha Mulia, Al-Buruuj: 15
49. al-Baa'its, Yang Membangkitkan, Yaasiin: 52
50. asy-Syahiid, Yang Maha Menyaksikan, Al-Maaidah: 117
51. al-Haqq, Yang Maha Benar, Thaahaa: 114
52. al-Wakiil, Yang Maha Pemelihara, Al-An'aam: 102
53. al-Qawiyy, Yang Maha Kuat, Al-Anfaal: 52
54. al-Matiin, Yang Maha Kokoh, Adz-Dzaariyaat: 58
55. al-Waliyy, Yang Maha Melindungi, An-Nisaa': 45
56. al-Hamiid, Yang Maha Terpuji, An-Nisaa': 131
57. al-Muhshi, Yang Maha Menghitung, Maryam: 94
58. al-Mubdi', Yang Maha Memulai, Al-Buruuj: 13
59. al-Mu'id, Yang Maha Mengembalikan, Ar-Ruum: 27
60. al-Muhyi, Yang Maha Menghidupkan, Ar-Ruum: 50
61. al-Mumiit, Yang Maha Mematikan, Al-Mu'min: 68
62. al-Hayy, Yang Maha Hidup, Thaahaa: 111
63. al-Qayyuum, Yang Maha Mandiri, Thaahaa: 11
64. al-Waajid, Yang Maha Menemukan, Adh-Dhuhaa: 6-8
65. al-Maajid, Yang Maha Mulia, Huud: 73
66. al-Waahid, Yang Maha Tunggal, Al-Baqarah: 133
67. al-Ahad, Yang Maha Esa, Al-Ikhlaas: 1
68. ash-Shamad, Yang Maha Dibutuhkan, Al-Ikhlaas: 2
69. al-Qaadir, Yang Maha Kuat, Al-Baqarah: 20
70. al-Muqtadir, Yang Maha Berkuasa, Al-Qamar: 42
71. al-Muqqadim, Yang Maha Mendahulukan, Qaaf: 28
72. al-Mu'akhkhir, Yang Maha Mengakhirkan, Ibraahiim: 42
73. al-Awwal, Yang Maha Permulaan, Al-Hadiid: 3
74. al-Aakhir, Yang Maha Akhir, Al-Hadiid: 3
75. azh-Zhaahir, Yang Maha Nyata, Al-Hadiid: 3
76. al-Baathin, Yang Maha Gaib, Al-Hadiid: 3
77. al-Waalii, Yang Maha Memerintah, Ar-Ra'd: 11
78. al-Muta'aalii, Yang Maha Tinggi, Ar-Ra'd: 9
79. al-Barr, Yang Maha Dermawan, Ath-Thuur: 28
80. at-Tawwaab, Yang Maha Penerima Taubat, An-Nisaa': 16
81. al-Muntaqim, Yang Maha Penyiksa, As-Sajdah: 22
82. al-'Afuww, Yang Maha Pemaaf, An-Nisaa': 99
83. ar-Ra'uuf, Yang Maha Pengasih, Al-Baqarah: 207
84. Maalik al-Mulk, Yang Mempunyai Kerajaan, Aali 'Imran: 26
85. Zuljalaal wa al-'Ikraam, Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan, Ar-Rahmaan: 27
86. al-Muqsith, Yang Maha Adil, An-Nuur: 47
87. al-Jaami', Yang Maha Pengumpul, Sabaa': 26
88. al-Ghaniyy, Yang Maha Kaya, Al-Baqarah: 267
89. al-Mughnii, Yang Maha Mencukupi, An-Najm: 48
90. al-Maani', Yang Maha Mencegah, Hadits at-Tirmizi
91. adh-Dhaarr, Yang Maha Pemberi Derita, Al-An'aam: 17
92. an-Naafi', Yang Maha Pemberi Manfaat, Al-Fath: 11
93. an-Nuur, Yang Maha Bercahaya, An-Nuur: 35
94. al-Haadii, Yang Maha Pemberi Petunjuk, Al-Hajj: 54
95. al-Badii', Yang Maha Pencipta, Al-Baqarah: 117
96. al-Baaqii, Yang Maha Kekal, Thaahaa: 73
97. al-Waarits, Yang Maha Mewarisi, Al-Hijr: 23
98. ar-Rasyiid, Yang Maha Pandai, Al-Jin: 10
99. ash-Shabuur, Yang Maha Sabar, Hadits at-Tirmizi

SEBAB-SEBAB DOA TERTOLAK

10 SEBAB DOA TERTOLAK

Ketika Ibrahim bin Khadam (seorang ahli tasauf yang masyhur) ketika berada di tengah-tengah pasar Basrah, beliau dikerumuni oleh orang ramai. Di antara mereka ada yang bertanya: Mengapakah doa mereka tidak dikabulkan Allah pada hal mereka selalu berdoa kepadanya? Beliau menjawab: Kerana hati kamu buta disebabkan sepuluh perkara yaitu:
1. PERTAMA, Kamu mengenal Allah, tetapi kamu tidak tunaikan hakNya.

2. KEDUA, Kamu berkata bahawa kamu cinta Rasulullah SAW tetapi kamu tinggalkan sunahnya.

3. KETIGA, Kamu telah membaca Al Quran, tetapi kamu tidak beramal dengannya.

4. KEEMPAT, Kamu telah makan nikmat-nikmat Allah, tetapi kamu tidak bersyukur (lupa) kepadaNya.

5. KELIMA, Kamu telah berkata bahawa syaitan itu musuh kamu, tetapi kamu tidak menentangnya.

6. KEENAM, Kamu telah berkata bahawa syurga itu benar, tetapi kamu tidak beramal untuknya.

7. KETUJUH, Kamu telah berkata bahawa neraka itu benar, tetapi kamu tidak lari daripadanya.

8. KEDELAPAN, kamu telah berkata bahwa mati itu benar, tetapi kamu tidak bersedia baginya.

9. KESEMBILAN, Kamu bangun dari tidur, lalu kamu ceritakan keaiban manusia, tetapi kamu lupa keaiban diri kamu sendiri.

10. KESEPULUH, Kamu kebumikan mayat-mayat sahabat kamu tetapi kamu tidak mengambil iktibar (pengajaran) daripada mereka.

KIAT-KIAT MERAIH POSISI ISTIMEWA DI SISI ALLAH

10 KIAT MERAIH POSISI ISTIMEWA DI SISI ALLAH SWT
(Oleh: Al-Harist al-Muhasibi)

1. Tidak Sembarangan Mengatasnamakan ALLAH
Jangan bersumpah mengatasnamakan ALLAH, meskipun benar (apalagi jika bohong), baik sengaja maupun tidak. Mudah-mudahan ALLAH SWT akan memudahkan urusan kita, mengangkat derajat dan kewibawaan kita.

2. Tidak Berbohong Dalam Kondisi Apapun
Jangan mudah berbohong meskipun itu tidak menyangkut hal yang serius. Mudah-mudahan ALLAH SWT melapangkan dada dan membersihkan amal kita.

3. Tidak Mudah Berjanji
Jika kita berjanji maka penuhilah janji tersebut, kecuali dengan alasan yang dibernarkan agama. Setelah itu hindarilah berjanji dengan alasan tersebut. Mudah-mudahan ALLAH SWT membukakan pintu kedermawanan, menjadikan kita orang yang punya harga diri dan mengangkat derajat kita.

4. Tidak Menyakiti Orang Lain
Jangan sampai menyakiti atau menghina orang walau sekecil apapun. Mudah-mudahan ALLAH SWT memberikan rezeki berupa kasih sayang diantara sesama dan mengangkat derajat kita

5. Tidak Mengutuk Orang Lain
Jangan pernah mengutuk orang lain, meskipun ybs telah menzalimi kita. Jangan lah kezaliman dibalas dengan kezaliman, baik dengan perbuatan maupun dengan perkataan. Mudah-mudahan ALLAH SWT memberikan kemuliaan di dunia maupun diakhirat, selain itu orang jauh maupun dekat akan menyayangi kita, dan ajakan kita untuk berbuat baik akan mudah diikuti orang lain.

6. Tidak Menjerumuskan Seorang Muslim
Jangan sampai kita menjerumuskan seorang muslim kedalam kekufuran, kemusyikan dan kemunafikan. Sikap seperti ini akan membukakan pintu kemuliaan beruapa rasa kasih sayang terhadap sesama mahklukNya

7. Tidak Bermaksiat Kepada ALLAH SWT
Jangan melakukan maksiat kepada ALLAH SWT baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Perbuatan ini merupakan salah satu perbuatan yang paling banyak pahalanya dari ALLAH SWT.

8. Tidak Mengandalkan Orang Lain
Jangan sampai mengandalkan bantuan dari orang lain, baik besar maupun kecil. Hindari meminta bantuan kepada semua mahklukNya, baik pertolongan tersebut kita butuhkan atau tidak. Sifat ini merupakan puncak kemuliaan seorang hamba yang bertakwa. Dengan kemuliaan tersebut kita bisa melaksanakan amar mahruf nahi mungkar, karena semua orang kita anggap mempunyai hak yang sama

9. Tidak Tamak
Menjaga diri dari sifat mengharapkan milik dan pemberian orang (tamak). Karena sifat tidak tamak merupakan ciri nyata kepasrahan kita kepada ALLAH SWT

10. Tidak Merasa Hebat
Hal ini bisa memuliakan dan mengangkat derajat seseorang, mengepakan sayap rendah diri, menyempurnakan kemuliaan dihadapan ALLAH SWT dan para hambaNya. Dengan seijin ALLAH SWT, ybs bisa melaksanakan semua keinginan dunia maupun akhiratnya.

Walahualam.